Asrama Mahasiswa Sulawesi Selatan di Yogyakarta

Posted: Kamis, 25 Maret 2010 by Pribadi in
2

Selasa (15/1/) merupakan hari kelabu bagi warga asrama mahasiswa Sulsel di Yogyakarta. Sekitar pukul 03.00 WIB sekelompok pemuda asal provinsi lain yang ada di kota pelajar ini menyerang Asrama Sawerigading yang ada di jantung kota Yogyakarta. Mereka bermodal bom molotov, senjata tajam, maupun pentungan. Akibatnya, 4 sepeda motor dibakar dan 2 penghuni asrama terluka akibat menginjak pecahan kaca. Yang timbul bukan hanya kerugian materil berupa rusaknya asrama yang baru direnovasi tersebut, tapi juga kerugian moril, karena beberapa perguruan tinggi saat ini sedang memasuki masa ujian. Harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta mengutip Kapoltabes Yogyakarta Kombes Pol Drs Agung Budi Maryoto Msi yang didampingi Kasat Reskrim Kompol Asep Taufik SIK, dan Kasat Intelpam Kompol Wahyu Agung Jatmiko SIK, yang menjelaskan bahwa kasus ini tengah ditangani Polres Sleman. Sebab diduga bentrok terjadi karena dilatar belakangi adanya keributan di wilayah Depok Barat Sleman. Pasca kejadian ini, diberitakan juga bahwa mediasi telah dilakukan Polda Yogyakarta untuk mendamaikan kelompok mahasiswa yang bersiteru, meminta semua pihak menahan diri, memastikan dilanjutkan proses hukum penyerangan ini, serta pembahasan kerugian yang ditimbulkan. Menyusul kejadian ini, bahkan beberapa mahasiswa yang tinggal di asrama lain, terpaksa tidak mengikuti ujian karena harus berjaga-jaga hingga pagi hari. Kondisi mencekam ini masih berlanjut hingga Selasa malam. Beberapa mahasiswa yang memiliki kendaraan berplat nomor Sulse (DD) memilih untuk tidak menggunakan kendaraannya, untuk mencegah hal yang tidak diinginkan. Kasus tawuran yang melibatkan asrama memang bukan yang pertama terjadi. Kasus terakhir adalah peristiwa tawuran mahasiswa Papua dengan masyarakat sekitar. Sedangkan tawuran yang melibatkan asrama mahasiswa Sulsel meletup ketika terjadi bentrok antara suporter mahasiwa daerah di pertandingan sepakbola. Tulisan ini, tidak hendak berpolemik siapa yang salah terhadap kasus ini. Tapi dari insiden paling akhir ini, kembali kita diingatkan bahwa Yogyakarta adalah kota pelajar dengan beragam etnis dan kultur, yang merupakan ruang belajar bagi pendidikan multikultural. Sayangnya, ruang belajar itu kini rusak. Keragaman budaya pelajar dan mahasiswa sangat rawan gesekan. Di Yogyakarta saat ini terdapat lima asrama milik Pemda Sulsel, yaitu Wisma Sawerigading, Wisma Latimojong, Wisma Bawakaraeng dan Wisma Merapi 4 semuanya untuk mahasiswa, serta Wisma Anging Mammiri yang diperuntukkan untuk mahasiswi. Selain asrama milik Pemerintah Provinsi Sulsel, juga terdapat beberapa asrama mahasiswa milik pemerintah kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan. Paling tidak ada sekitar 20-an asrama mahasiswa milik pemerintah kabupaten. Bagi sejumlah orang, kehidupan asrama adalah kehidupan yang eksklusif. Ada anggapan warga asrama hanya mau berbaur dengan orang yang berasal dari daerah yang sama. Untuk mengantisipasi ini, beberapa asrama memberikan syarat untuk tinggal menjadi warga asrama harus pernah indekos minimal selama 1 tahun, dengan harapan bahwa mahasiswa yang bersangkutan pernah merasakan berbaur dengan masyarakat. Tudingan bahwa kehidupan asrama mahasiswa bersifat ekslusif juga tidak sepenuhnya benar, melihat beberapa asrama aktif mengikuti kegiatan masyarakat sekitar. Lantas kenapa peristiwa tawuran di asrama mahasiswa sering terjadi? Menurut saya, paling tidak telah terjadi sumbatan komunikasi antarmahasiswa daerah. Sudah sewajarnya asrama mahasiswa yang ada di Yogyakarta kembali membangun komunikasi, baik berbasis ilmiah maupun kultural, sehingga masing-masing pihak bisa memahami keragaman kultur masyarakat daerah lain. Asrama bukanlah sebuah kotak yang membentengi sikap primordialisme dan mempersempit rasa nasionalisme, tetapi justru merupakan jembatan untuk memahami kebudayaan daerah lain, mengingat asrama juga sebagai organisasi sehingga lebih mudah untuk membentuk pemahaman ini dibanding mengumpulkan mahasiswa yang masih indekos, misalnya. Insiden di Asrama Sawerigading ini bisa menjadi momentum bagi Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa (IKPM) untuk menata ulang visi organisasinya, apakah ingin tetap sebagai tempat tinggal, mempertahankan sekat feodalisme dan primordialisme, atau menarik pelajaran berharga dari serangkaian insiden belakangan ini untuk kemudian menjadi jembatan mengenal kebudayaan lain. Para pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah yang sedang belajar di Yogyakarta, wajib untuk ikut serta membangun Yogyakarta sebagai Indonesia Mini yang aman dan nyaman menerima perbedaan. Tanggung jawab ini bukan milik warga Yogyakarta semata, tapi kita semua yang tinggal, belajar dan mencari hidup di kota ini. Sebagai mahasiswa, kita wajib membela predikat mulia kota ini sebagai kota pelajar. (p!) *Citizen reporter Zulkifli dapat dihubungi melalui email surat_zoel@yahoo.com

2 komentar:

  1. subhanallah , tulisannya menggambarkan kondisi yang asri nan elok di asrama Sawerigading ^^

  1. fikar says:

    trims atas sharingnya :)