Keturunan raja ke 1001
Posted: Kamis, 25 Maret 2010 by Pribadi inOleh bocah yang baru belajar menulis..!!!
Di sebuah pulau bagian timur Negara kepulauan ini ada suatu tempat yang tidak luput dari sejarah peperangan pada masa penjajahan. Ditempat itu dikenal juga sebagai salah satu yang mayoritas penduduknya melaut, itu dikarenakan disana memiliki perairan yang luas dibandingkan dengan daratannya. Dan disana juga masih sangat kental dengan sesuatu yang berbau dengan kerajaan-kerajaan yang ada disana. Kita pasti pernah dengar dengan sebuah julukan “Ayam Jantan Dari Timur” itu adalah julukan dari seorang pahlawan Sulawsi Selatan yang bernama Sultan Hasanuddin dan karena salah satu pahlawan seperti ia Sulawesi Selatan bisa bertahan hingga sekarang.
Dan suatu pagi didaerah itu tepatnya salah satu kabupaten dari Sulawesi Selatan yang dimana pusat kotanya terletak di Ujung Pandang atau dengan nama Makassar yang sekarang, ada sebuah keluarga yang hidup dengan memiliki gelar sebagai salah satu keturunan raja. Dalam rumah tersebut mereka hidup dengan memiliki gelar sebagai salah satu keturunan raja. Dimana mereka hidup bertiga, sepasang suami istri dan seorang anaknya yang umurnya saat sekarang sudah beranjak 21 tahun yang dimana umur anaknya yang sekarang sudah dianggap bisa membina rumah tangga sendiri atau dengan perspektif orang awam sudah layak untuk dinikahkan. Anak ini bernama Andi Syahid yang lebih dikenal dengan sebutan Sai kalau orang-orang ataupun teman-temannya sering memanggil dengan sebutan demikian. Tapi tidak semudah itu dia dinikahkan karena Sai ini adalah masih salah satu keturunan raja yang masih kental maka dari itu yang harus jadi pasangan hidupnya adalah yang sederajat dengan dia atau dengan kata lain pasangannya itu harus dari keturunan raja juga agar keturunan raja itu tidak hilang dimakan masa.
Kemudian suatu hari Sai ini diperkenalkan dengan seorang wanita yang masih ada keturunan raja dari suatu daerah kabupaten lain di Sulawesi Selatan juga. Wanita ini bernama Sitti Suleha Alimuddin yang biasa dipanggil dengan Sitti. Sitti ini adalah seorang gadis yang begitu putih dan cantik. Setelah mereka diperkenalkan Sai dan Sitti langsung dengan cepatnya mereka bisa akrab dan saling bercerita tentang diri mereka masing-masing. Bukan hanya pertemuan itu saja mereka bersama tetapi setelah pertemuan itu mereka makin sering pergi bersama.
Ketika orang tua Sai ini melihat hubungan mereka, sebulan setelah mereka saling kenal Ibu dan Bapak Sai segera memanggil Sai disuatu malam dirumahnya untuk membicarakan tentang hubungan mereka selanjutnya. Sai pun dipanggil oleh ibunya…...
“Sai…….!”
“iya bu …..tunggu sebentar!”
Sai pun segera keluar dari kamarnya dan mendatangi ibu dan bapaknya yang ada diruang keluarga.
“Ibu memanggil Sai yah? Ada apa Bu?.
“iya, sini! Ibu dan bapak ingin bicarakan sesuatu sama kamu nak!”
“kayaknya serius banget nih!Ada apa pak, bu?”
“ini bapak dan ibu mau tanya sama kamu tentang hubungan kamu dengan Sitti!”
“memang ada apa hubungan saya dengan sitti?’ perasaan baik-baik saja !”
“oleh karena itu gimana dengan kelanjutan hubungan kalian berdua?’ ibu dan bapak setuju jika kalian segera menikah! Apa kamu mau menikah dengan Sitti?”
“itu toh yang bapak dan ibu yang ingin tanyakan! Kalau Sai terserah ibu dan bapak saja, lagian Said an Sitti sepertinya sudah cocok!”
“baiklah kalau Sai juga setuju besok ibu dan bapak akan kerumah Sitti untuk membicarakan tentang hal ini pada kedua orang tuanya!”
“iya terserah ibu dan bapak saja, Sai nurut saja sama ibu dan bapak!”.
Setelah itu Sai segera kembali kekamar tidurnya dengan muka yang begitu berseri-seri karena diliputi rasa gembira. Tidak lama lagi dirumah itu akan pertambahan keluarga baru.
Keesokan paginya sekitar pukul 9 pagi ibu dan bapak Sai pergi kerumah Sitti untuk melamar Sitti menjadi istri dari anaknya (menantu) satu-satunya yaitu Sai. Tibalah ibu dan bapak Sai dirumah Sitti dan mengetok pintu rumah calon menantunya….!
“tok….tok….tok…..!”
“iya tunggu sebentar!”
Sitti pun segera membuka pintu, disaat dia membuka pintu ia pun terkejut melihat bapak dab ibu Sai yang berdiri dihadapannya dan sejenakpun ia tediam membisu.
“ada apa nak? Kenapa kayak patung gitu?”
“maaf Tante, om, tidak kenapa-napa! Silahkan masuk tante, om!”
ibu dan bapak Sai pun masuk kerumah calon menantunya itu dan segera duduk lalu mereka bertanya pada Sitti
“Sitti, bapak dan ibunya ada dirumah?”
“iya ada tante, om, tunggu sebentar saya panggilkan dulu bapak dan ibu Sitti!”
tidak lama kemudian bapak dan ibu Sitti pun muncul menemui bapak dan ibu Sai yang ada diruang tamu. Dengan suguhan masing-masing secangkir teh dimulailah pembicaraan serius.
“gini pak, bu, maksud dari kedatangan kami ini ingin bermaksud meminang anak bapak dan ibu yaitu Sitti menjadi istri dari anak tunggal kami Sai! Gimana pak, bu?”
“kalau kami selaku orang tua Sitti setuju saja lagian mereka berdua sudah cukup dewasa untuk menempuh kehidupannya sendiri. Tapi itu tidak terlepas dari persetujuan mereka berdua! Benarkan pak, bu?”
“iya benar pak! Kalau begitu kita tanyakan langsung pada bapak dan ibu itu!”
dengan segera pun Sitti dipanggil oleh bapaknya untuk keluar menemui mereka
“ada apa memanggil Sitti?”
“ini nak, maksud bapak dan ibu Sai datang kerumah ini untuk melamar Sitti buat istri nak Sai! Menurut kamu gimana?”
(dengan wajah tersipu malu Sitti berkata…)
“Sitti terserah bapak dan ibu Sitti saja, kalau itu memang baik buat Sitti menurut bapak dan ibu pasti Sitti nurut!”
Setelah pernyatan Sitti yang seperti itu maka lengkaplah kebahagiaan dua keluarga ini, kemudian setelah beberapa saat setelah itu bapak dan ibu Sai pamit pulang dengan membawa berita kebahagiaan terhadap anak tunggalnya tersebut dan kedua keluarga tersebut berjanji akan kembali bertemu seminggu kemudian untuk membicarakan hari yang baik untuk pernikahan anak mereka.
Setelah sampai dirumah bapak dan ibu Sai segera memberi taukan kepada anak kesayangannya tersebut atas berita kebahagiaan yang dimana lamarannya resmi diterima oleh keluarga Sitti. Disaat Sai mendengar berita tersebut mukanya langsung berseri-seri dan memberikan senyuman yang begitu lepas kepada kedua orang tuanya tetapi dia malah kebingungan dengan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Tetapi pesan kedua orang tuanya agar Sai harus menjaga kesehatannya dan mengurangi keluar dari rumah sampai setelah Sai menikah dengan Sitti agar proses pernikahannya dapat berjalan dengan baik.
Dan seminggu kemudian kedua keluarga bertemu kembali untuk membicarakan hari atau tanggal pernikahan yang baik kedua anaknya tersebut. Setelah berselang 3 jam kedua keluarga tersebut saling bertukar pikiran dalam menentukan hari dan tanggal yang baik buat pernikahan anak mereka dan mereka akhirnya setuju bahwa pernikahan anak-anak mereka akan dilaksanakan tiga minggu lagi dari pertemuan mereka ini. Setelah pertemuan ini masing-masing keluarga saling sibuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut hari bahagia tersebut. Di keluarga Sai sibuk dengan undangan-undangan ataupun erang-erangan yang dimana acara pernikahan anaknya akan dibuat seramai dan semewah-mewahnya itu dikarenakan pemahaman Siri’ itu sangat masih kental di sulawesi apalagi dikalangan keluarga keturunan raja seperti mereka. Mereka akan malu ketika acara pernikahan anaknya tidak ramai dan tidak mewah itu dikarenakan mereka dikenal sebagai salah satu keturunan raja yang ada di Sulawesi Selatan.
Hari demi hari telah berlalu tidak terasa hari pernikahan tinggal sehari lagi, semua undangan telah tersebar pada masing-masing kerabat yang akan diundang dan semua erang-erang yang banyaknya sekitar 50 buah sudah siap dan terbungkus dengan rapi. Sai pun sudah merasa sangat ketakutan dikelilingi rasa bahagia akan pernikahannya hari esok tersebut. Dan tibalah suatu pagi yang begitu cerah, nyanyian burung yang begitu merdu dan udara pagi yang segar menyambut menigginya matahari, dimana pagi itu acara pernikahan Sai segera dilangsungkan. Tepat pada pukul 8 pagi, semua pembawa erang-erang dan calon pengantin pria sudah siap untuk menuju kerumah Sitti. Sekitar 30 menit kemudian irin-iringan pengantin yang panjangnya kurang lebih 2 kilometer dimana banyak erang-earngan bawaan pengantin mencapai 800 meter panjangnya memasuki wilayah rumah pengantin perempuan dan iring-iringan itupun disambut dengan penuh kebahagiaan dan senyuman yang lepas oleh para penjemput tamu yang cantik-cantik dan tampan yang kesemuanya memakai pakaian adat sulawesi. Proses pernikahan pun berlangsung dengan lancar yang disaksikan para keluarga dari kedua mempelai dan suasana haru yang penuh kebahagiaan mewarnai pernikahan mereka. Pernikahan mereka memang begitu ramai sampai-sampai jalanan umum didepan rumah mereka masing-masing ditutup sampai acara pernikahan tersebut berakhir.
Hampir setahun dari pernikahan mereka, Sitti pun sudah hamil tua hingga menunggu saat-saat kelahiran anak mereka. Dan disaat-saat menunggu kelahiran anaknya calon kakek dan nenek ini pun membuat acara dan memberikan kurban demi kelancaran kelahiran cucunya. Tibalah hari dimana bertanbahlah lagi kebahagiaan mereka karena Sitti telah melahirkan seorang anak laki-laki tanpa ada kesulitan, semua pihak keluarga mengantarkan hadiah kepada sang bayi yang baru lahir dengan suasana penuh sukacita tersebut. Tali pusarnya dipotong dengan sebuah kelewang pusaka yang turun temurun telah digunakan.
By Kuntet
