Perginya, dan Kehancuran Datang…
Posted: Kamis, 25 Maret 2010 by Pribadi inUdara yang sejuk, segar dan pepohonan yang masih rimbun di sebuah kawasan perumahan yang masih jauh dari pusat peradaban modern. Tepat pada pukul 5 pagi lampu di rumah-rumah telah dimatikan, suryapun mulai menampakkan sinarnya dengan perlahan dan terdengarlah suara gemercik air sungai yang telah dipermainkan oleh anak-anak yang sedang membasuh tubuhnya sebelum mereka berangkat sekolah. Di kawasan perumahan tersebut ada sebuah keluarga yang hidupnya harmonis, dalam keluarga itu mereka hidup ber-Empat ayah, ibu dan dua orang anaknya yang usia anak pertama sudah tujuh tahun dan telah sekolah disalah satu sekolah dasar yang paling dekat dengan rumahnya dan anak yang terahrirnya masih berusia kurang lebih dua tahunan sedangkan ayahnya sendiri bekerja di salah satu lembaga pemerintahan yang upahnya disaat itu tidaklah dapat mencukupi semua kebutuhan hidup keluarga menengah ke bawah. Walaupun hidup mereka hanya mengandalkan upah dari kepala keluarga yang pas-pasan itu dan sering dilanda dengan persoalan-persoalan kebutuhan keluarga yang tidak terpenuhi tetapi mereka bisa saja melewati hari-harinya dengan penuh kebahagian.
Kemudian tepat pukul enam pagi anaknya yang paling tua akan berangkat, dan iapun berpamitan pada kedua orang tuanya.
”Ayah, bu saya pamit mau pergi ke sekolah!”
”Iya nak, balajar yang baik disekolah, jangan nakal dan hati-hati dijalan!”
Itulah pesan dari seorang ibu kepada anaknya setiap hari disaat anaknya akan pergi ke sekolah. Setelah berpamitan anak itu segera berangkat ke sekolah dengan berpakaian seragam sekolah yang tampak kumuh, sepasang sepatu yang digunakan sudah sobek kiri-kanan, berbekal pensil dan sebuah buku tulis yang ditentengnya tanpa menggunakan tas dia berjalan ke sekolah yang jaraknya 2 km dari rumahnya tetapi itu bukanlah suatu penghalang karena semangatnya yang berkobar-kobar dan lantunan sebuah lagu keluar dari mulutnya yang kecil mengiringi langkahnya.
Tidak lama kemudian ayahnya juga berangkat kerja demi masa depan keluarga dan tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga untuk menghidupi istri dan kedua orang anaknya. Setelah ayahnya berangkat ibunya pun segera melakukan rutinitasnya dirumah sebagai seorang ibu rumah tangga, memberi makan si bungsu dan menemaninya hingga dia tertidur setelah itu barulah melakukan pekerjaan yang lain seperti bersih-bersih rumah, mencuci pakaian dan terakhir memasak untuk makan anak dan suaminya di saat mereka pulang. Itulah rutinitas keseharian dalam keluarga ini dan ada juga seorang bujang yang masih ada hubungan keluarga dari mereka yang sering datang mengunjungi mereka. Rumah bujang ini berada di seberang jalan dari kawasan perumahan mereka dan pekerjaan bujang ini adalah sebagai seorang sopir angkutan umum selama bertahun-tahun yang ada di wilayah tersebut.
Hari demi hari telah berlalu, tiba di suatu hari ada surat keputusan untuk ayahnya. Isi surat keputusan itu yang intinya ayahnya akan dipindah kerjakan di suatu lokasi yang sangat jauh dan dalam jangka waktu tiga tahun dengan suatu alasan akan ada penaikan jabatan pada ayahnya. Perasaan sebuah keluarga itu di saat mengetahui tentang isi surat itu telah bercampur antara sedih dan senang. Sedih karena harus ditinggalkan dan meninggalkan selama kurun waktu tiga tahun, senang karena akan ada peningkatan taraf hidup dalam keluarganya. Entah harus bagaimana mengatasi perasaan itu tapi mereka harus tetap menghadapinya.
Dan kemudian di suatu pagi yang begitu cerah terdengar nyanyian burung, suara ayam yang menyambut surya meninggi dan semilir angin yang membawa kesejukan pagi, dimana di pagi itu akan ada tangisan kesedihan sebuah keluarga yang akan berpisah dari salah satu anggota keluarganya. Pagi itu ayahnya sudah bersiap-siap dengan barang yang akan dibawa ke lokasi kerjanya yang baru. Sebelum barangkat ayahnya berpamitan pada tetangga rumahnya.
”Pak saya pamit dan sekalian menitipkan keluarga saya selama saya tidak di rumah!”
”Memangnya bapak mau kemana?”
”Saya dipindahkan ke lokasi kerja yang sangat jauh dan membutuhkan berhari-hari dalam perjalanannya,yah begitulah pak!”
”Baiklah kalau memang keadaanya seperti itu,saya akan berusaha menjaga keluarga bapak dengan semampu saya, tenang dan hati-hati saja dijalan!”
”Terima kasih pak, mau membantu saya!”.
Akhirnya ayahnya pun akan berangkat. Dari sudut mata seorang istri ada kucuran air mata yang begitu deras dan mata seorang anaknya yang paling tua berkaca-kaca membendung kesedihan yang akan ditinggalkan oleh ayahnya, dan disaat itu pula tiba-tiba datang si bujang yang sering mengunjungi mereka itu.
” Ah..,kebetulan kamu datang!”
”Memangnya ada apa?,paman mau pergi,kemana?”
”Paman akan pergi ke lokasi kerja paman yang baru dan jauh jadi paman menitipkan keluarga paman pada kamu!”
”Terus paman berapa lama di sana?,kelihatannya banyak barang yang akan dibawa paman!”
”Paman disana sekitar tiga tahunan, tolong paman ya?!”
”Baiklah paman saya akan ingat dan menjalankan amanah paman pada saya!!”
(paman adalah panggilan si bujang ini pada seorang ayah yang akan meninggalkan keluarganya).
Kemudian berangkatlah seorang ayah ini walaupun berat dengan melangkahkan kakinya untuk berpisah dari keluarganya dalam jangka waktu yang lama tetapi demi satu impian agar hidup keluarganya akan bertambah bahagia kelak tanpa kekurangan satu apapun lagi. Disaat gambaran sosok seorang suami dimata istrinya sudah menghilang dikejauhan kemudian si bujang inipun pamit pergi untuk melakukan rutinitasnya sebagai seorang sopir angkutan umum. Setelah si bujang ini pergi meski dengan adanya perubahan keadaan keluarganya sebagai seorang ibu dari dua orang anak, dia harus tetap melakukan rutinitasnya dan tidak terus larut dalam kesedihan.
Tidak terasa sudah setahun perpisahan mereka yang dikarenakan tuntukan kehidupan. Selama setahun itu komunikasi mereka tetap saja lancar meskipun demikian rasa kesepian tetap saja selalu hadir dalam kehidupan mereka yang terpisah oleh jarak, itu terlihat dari seorang istri yang selalu murung dan menunggu kepulangan suaminya di depan rumah. Semenjak perpisahan mereka si bujang itupun makin sering datang mengunjungi mereka yang ditinggalkan oleh kepala keluarganya. Pagi, siang, sore dan malam si bujang ini selalu ada bahkan kadang kala sampai nginap di rumah itu. Begitulah keadaannya sampai menjelang dua tahun dari kepergian kepala keluarga di rumah itu.
Makin hari para tetangga yang diberi amanah untuk menjaga keluarga ini makin curiga dengan si bujang yang makin sering nginap di rumah itu. Dan kecurigaan mereka memuncak di suatu malam di mana si bujang ini nginap di rumah itu lagi hingga akhirnya para tetangga memutuskan untuk memaksa masuk di rumah itu tepat pukul dua dini hari. Ternyata kecurigaan mereka terbukti disaat si bujang ini berada di tempat tidur bersama istri yang ditinggal suaminya kerja tanpa menggunakan penutup tubuh apapun. Para tetangga sangat marah melihatnya lalu mereka di usung keluar rumah lalu di pasung dan di cambuk memakai rotan hingga tubuh mereka tampak seperti di sayat-sayat pisau. Kemudian salah seorang anaknya yang paling tua terbangun dari tidurnya yang lelap mendengar teriakan dan tangisan kesakitan seorang wanita dari luar rumahnya. Dan diapun segera berlari keluar dan berdiri tepat di pintu rumah dengan memandang keluar dari sorotan mata seorang anak yang masih kecil dan tidak tahu apa-apa hanya bisa menangis dan teriak memanggil ”ibu…ibu….!!” karena melihat keadaan ibunya seperti itu di tengah-tengah keramaian para tetangga. Kemudian anak ini diambil oleh salah seorang tetangga dan dibawa masuk kesebuah rumah agar tidak melihat hal itu lagi. Disaat bersamaan ada salah seorang tetangga yang langsung memberitahukan kejadian ini pada suaminya yang sedang berada di tempat kerjanya yang jauh. Disaat mendengarkan berita tersebut seorang suami ini langsung memutuskan untuk pulang di hari itu juga. Pasung mereka tidak dilepas sampai menunggu kedatangan suami dari istri yang telah melakukan hal yang tidak seharusnya dia lakukan disaat suaminya tidak dirumah.
Empat hari kemudian suaminya telah tiba di rumah itu dan dia melihat istrinya dalam keadaan di pasung atas perbuatannya itu. Dengan penuh kekecewaan yang besar dalam diri sang suami, lalu iapun mengeluarkan sebuah gunting dari tasnya lalu menggunting rambut istrinya hingga tidak tersisa dan kemudian memukuli si bujang dengan sekuat-kuatnya hingga dia terduduk lemas dan hanya bisa mengeluarkan air mata tanpa berucap satu kata pun. Keesokan harinya sang suami yang diliputi kekecewaan yang besar memutuskan untuk bercerai dengan istrinya dan hari itu juga pengadilan telah mengesahkan perceraian mereka dan keputusan hak asuh anak ada di pihak sang ayah. Setelah kejadian itu anak-anaknya dititipkan sementara waktu pada kerabat dekat sang ayah dengan suatu asumsi agar ayahnya dapat tenang terlebih dahulu atas apa yang telah menimpa keluarga mereka. Ada pertanyaan yang tidak pernah terjawab dalam diri ayahnya atas kejadian itu. ”kenapa istrinya mau melakukan itu dan kenapa ini terjadi pada keluarganya??”.
By KunteT
